Minggu, 02 Januari 2011

Dyna, Nomor Satu Kuat, Irit Belakangan

Bagi pegusaha transportasi daerah – khusus angkutan barang – faktor daya angkut sebuah kendaraan (truk) sangat penting. Apalagi jarak yang ditempuh ratusan kilometer. Medan yang dilalui juga berat, misalnya banyak tanjakan berat. Karena itulah, mereka yang tidak memikirkan masalah konsumsi bahan bakar yang harus irit.
“Mesin harus kuat. Begitu juga sasisnya. Kalau tidak, dipastikan akan rugi,” papar Sapriadi (32 tahun),  seorang pengusaha angkutan barang dari Maros, Sulawesi Selatan. Menurutnya, perbedaan satu ton sangat berarti. Karena biaya pengiriman jadi mahal. Ia pun mengatakan, sekali kirim, biaya maksimum setiap kilogram barang Rp 1.100 antara Makassar ke Kendari atau Gorontalo. “Kalau daya angkut kurang,  biaya kirim setiap kilogram jadi mahal. Pemilik barang tidak mau,” jelasnya.
8-9 Ton
Berdasarkan hal tersebutlah Sapriadi akhir memilih Toyota Dyna. Sampai sekarang ini ia punya 5 unit Dyna yang selalu siap mengirimkan barang dari Makassar ke Gorontalo atau Kendari. Barang yang dibawa adalah bawang merah dan kentang.
Saat ini, ia punya 10 uni truk. “Truk lain berukuran lebih besar. Toyota tidak punya. Kalau ada pasti saya beli,” tegasnya. Penyebabnya, karena ia sudah yakin dengan kemampuan mesin Toyota. Di samping itu, sasisnya juga kuat sehingga tidak menimbulkan masalah dengan muatan yang dibawa.
“Kemampuan Dyna yang saya gunakan berkisar 8-9 ton. Merek lain cuma 8 ton. Karena itulah saya memutuskan tetap menggunakan Toyota Dyna kendati sering ditawarkan merek lain. Bahkan ada merek dengan kemampuan sama, ditawarkan paket harga lebih murah. Saya tetap bertahan dengan Dyna,” tegas suami Nirwana ini. Alasannya,  sudah akrab dengan Dyna. Di samping itu, jaringan layanan purna jualnya lebih luas.
“Suku cadang mudah diperoleh. Harganya pun terjangkau dengan kualitas yang lebih baik,” komenarnya. Faktor lain yang sangat penting, karena medan yang dilalui . Bahkan, agar perjalanan truknya lancar, Sapriadi selalu mempersiapkan komponen vital yang mudah habis karena harus melalui tanjakan berat, yaitu rem dan ban. “Jadi kalau ada masalah tidak perlu kembali atau mencari toko onderdil lagi,” jelasnya.
Kemampuan Menanjak
Dijelaskan, pada rute Makassar –Gorontalo,  truknya  harus melewati tanjakan yang berat. Dari bawah sudah ancang-ancang. “Kalau tidak ancang-ancang, dipastikan tidak kuat. Malah kalau berhenti di tengah tanjakan, harus mundur lagi untuk ancang-ancang,” bebernya.  Karena kemampuan di tanjakan sudah teruji, maka Sapriadi, tetap setia dengan Dyna.
Kalau berhenti di tengah tanjakan, masalah yang akan muncul bisa banyak. Itu sering terjadi pada truk yang kurang kuat, baik mesin, sasis maupun suspensinya. “Kalau ada komponen yang patah, repot. Harus balik lagi Makassar. Butuh waktu lama. Barang kiriman bisa busuk. Dengan truk yang kuat, bisa sekali jalan. Karena itulah saya selalu mempersiapkan ban dan kampas rem pada setiap truk yang berangkat,” bebernya.
Sapriadi memulai usaha angkutan pada 1998, pernah menggunakan merek lain, cuma mampu membawa 8 ton. “Kemampuan segitu kurang kompetitif. Ongkos kirim jadi mahal,” tukasnya.
Dijelaskan pula, di jalan yang banyak tanjakan dan turunan, plus muatan sangat berat, komponen yang paling cepat habis adalah kampas rem dan ban. Karena itu, faktor harga dan kemudahan mendapatkan onderdil tersebut juga menjadi pertimbangan Sapriadi memilih Toyota Dyna.
“Jaringan Toyota di Sulawesi luas. Cukup mudah mendapatkan onderdil dengan harga yang tidak terlalu mahal,”beber Sapriadi yang mengaku setiap unit Dyna hanya beroperasi 3 rit setiap bulan. Maklum, jarak yang ditempuh sangat jauh! 
(sumber http://dadangsupriadi.wordpress.com/2010/10/10/nomor-satu-kuatirit-belakangan/)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar